Kamis, 19 September 2019

APRESIASI TARI


APRESIASI TARI
TARI “GAMBYONG”
Minggu, 08 September 2019
Desa Wisata Bromonilan, Purwomartani, Kalasan,  Sleman, D.I. Yogyakarta




 











Dosen Pengampu:
Dyan Indah Purnama Sari, M.Pd.

Kelas: 7B
Disusun oleh :
Famela Indah Agesy             (2016015069)




FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SARJANAWIYATA TAMANSISIWA
YOGYAKARTA
2019
APRESIASI TARI
Tarian                                    : Gambyong
Event                                     : Gelar Pesona Desa Wisata
Penyelenggara Pokok       : Dinas Pariwisata D.I. Yogyakarta 
A.     Tari Gambyong
Tari Gambyong adalah tarian yang berasal dari Provinsi Jawa Tengah, tepatnya Kota Surakarta.  Tarian ini merupakan salah satu tarian yang dipentaskan dalam rangka memeriahkan acara resepsi perkawinan atau seringkali juga dimainkan untuk menyambut para tamu.  Yang menjadikannya terasa begitu lain dengan tarian lainnya ialah tari gambyong ini selalu diawali dengan Gending Pangkur.   Pada dasarnya, gambyong dicipta untuk penari tunggal, namun sekarang lebih sering dibawakan oleh beberapa penari. Tarian ini terasa sangat elok diliat atau terasa begitu indah ketika sipenari menari-nari selaras dengan irama musik mengirinya, apalagi ketika dia begitu wahhh ketika bergerak seirama dengan suara kendang yang merupakan salah satu daya tarik tersendiri tarian gambyong
Seorang penabuh kendang dalam tarian ini bukanlah orang yang sembarangan karena dia harus mampu menyesuaikan dengan liak-liuk tubuh sang penari namun juga harus tetap seirama dengan gending.   Oleh sebab itu, sipenari tidak akan dapat menari dengan baik tanpa diiringi dengan suara kendang yang senada dengan goyangannya.  Saking selarasnya antara suara kendang dan sipenari gambyong menjadikan dua hal ini menjadi tidak dapat terpisahkan.
B.     Sejarah
Pada mulanya tarian ini hanyalah tarian jalanan yang juga dipentaskan oleh penari jalanan yang biasa disebut dengan sebutan Tledek (Bahasa Jawa).  Nama Tledek yang menarikan tarian ini adalah Gambyong, ia sangat terkenal hampir diseluruh wilayah Surakarta pada Zaman Sinuhun Paku Buwono IV ( 1788 s/d 1820).   Sosok sang penari yang begitu sangat cantik dan tentunya dia juga dapat menarikan tarian tersebut dengan sangat elok dan begitu indah dan ditambah lagi ia juga memiliki suara yang merdu, sehingga tak dapat dipungkiri lagi dia menjadi sangat tersohor kala itu.  Dan semenjak itulah tarian yang dimainkannya dijuluki Tarian Gambyong.
Serat Chintini, kitab yang ditulis pada masa pemerintahan Pakubuwana IV (1788-1820) dan Pakubuwana V(1820-1823), telah menyebut adanya gambyong sebagai tarian tlèdhèk. Selanjutnya, salah seorang penata tari pada masa pemerintaha Pakubuwana IX (1861-1893) bernama K.R.M.T. Wreksadiningrat menggarap tarian rakyat ini agar pantas dipertunjukkan di kalangan para bangsawan atau priyayi. Tarian rakyat yang telah diperhalus ini menjadi populer dan menurut Nyi Bei Mardusari, seniwati yang juga selir Sri Mangkunegara VII (1916-1944), gambyong biasa ditampilkan pada masa itu di hadapan para tamu di lingkungan Istana Mangkunegara.
Perubahan penting terjadi ketika pada tahun 1950, Nyi Bei Mintoraras, seorang pelatih tari dari Istana Mangkunegaran pada masa Mangkunegara VIII, membuat versi gambyong yang "dibakukan", yang dikenal sebagai Gambyong Pareanom. Koreografi ini dipertunjukkan pertama kali pada upacara pernikahan Gusti Nurul, saudara perempuan MN VIII, pada tahun 1951. Tarian ini disukai oleh masyarakat sehingga memunculkan versi-versi lain yang dikembangkan untuk konsumsi masyarakat luas.

C.      Instrumen

Alat musik atau instrumen yang biasanya digunakan untuk mengiringi tarian ini adalah sebagai berikut :

1.    Kendang
2.    Gender
3.    Penerus gender
4.    Bonang
5.    Kenong
6.    Kempul
7.    gong

D.     Gerak Tari

Secara umum, Tari Gambyong terdiri atas tiga bagian, yaitu: awal, isi, dan akhir atau dalam istilah tari Jawa gaya Surakarta disebut dengan istilah maju beksan, beksan, dan mundur beksan. Yang menjadi pusat dari keseluruhan tarian ini terletak pada gerak kaki, lengan, tubuh, dan juga kepala. Gerakan kepala dan juga tangan yang terkonsep adalah ciri khas utama tari Gambyong. Selain itu pandangan mata selalu mengiringi atau mengikuti setiap gerak tangan dengan cara memandang arah jari-jari tangan juga merupakan hal yang sangat dominan. Selain itu gerakan kaki yang begitu harmonis seirama membuat tarian gambyong indah dilihat.  Gerakan gambyong terkesan gemulai dan pelan, namun ada di beberapa gerakan kaki yang lebih cepat seperti gerakan memutar.

E.      Penggunaan Tari Gambyong

1.    Pada awalnya, tari gambyong digunakan pada upacara ritual pertanian yang bertujuan untuk kesuburan padi dan perolehan panen yang melimpah. Dewi Padi (Dewi Sri) digambarkan sebagai penari-penari yang sedang menari.

2.    Sebelum pihak keraton Mangkunegara Surakarta menata ulang dan membakukan struktur gerakannya, tarian gambyong ini adalah milik rakyat sebagai bagian upacara.

3.    Kini, tari gambyong dipergunakan untuk memeriahkan acara resepsi perkawinan dan menyambut tamu-tamu kehormatan atau kenegaraan.

F.      Kostum dan Ciri khusus

  • Penari menggunakan jarik dan kemben lengkap dengan selendang dan hiasan sanggul adat Jawa.
  • Pakaian yang digunakan bernuansa warna kuning dan warna hijau sebagai simbol kemakmuran dan kesuburan (selendang).
  • Sebelum tarian dimulai, selalu dibuka dengan Gendhing Pangkur.
  • Teknik gerak, irama iringan tari dan pola kendhangan mampu menampilkan karakter tari yang luwes, kenes, kewes, dan tregel.

Dokumentasi

Daftar Pustaka
Rahimawati. "Tari Gambyong Tradisi Jawa Tengah yang Aduhai". Diakses tanggal 4 Mei 2014

APRESIASI TARI

APRESIASI TARI TARI “ GAMBYONG” Minggu, 08 September 2019 Desa Wisata Bromonilan, Purwomartani, Kalasan,   Sleman, D.I. Yogyakarta...